Cara Berpakaian di Pura

Bali Nusa Transport

Mengunjungi pura Hindu Bali (Pura) adalah salah satu bagian terbaik dari perjalanan ke Pulau Dewata. Namun, pura adalah tempat ibadah yang aktif, bukan sekadar objek wisata. Memahami 'Adat' mengenai cara berpakaian sangat penting untuk menjadi tamu yang hormat.
1. Kombo Wajib: Sarung & Selendang

Aturan paling dasar dalam berpakaian di pura Bali adalah 'Kamen' (sarung). Terlepas dari jenis kelamin atau pakaian Anda saat ini (bahkan jika Anda memakai celana panjang), sarung wajib dikenakan di sebagian besar pura utama. Kain ini dililitkan di pinggang untuk menutupi kaki hingga pergelangan/betis. Filosofinya adalah untuk menutupi bagian bawah tubuh yang dianggap kurang suci secara hormat.
Melengkapi sarung adalah 'Selendang' yang diikat di pinggang. Ini bukan sekadar ikat pinggang; ini memiliki makna simbolis yang dalam. Selendang mewakili pemisahan antara dunia bawah (naluri manusia, nafsu) dan dunia atas (roh/pikiran suci). Dengan mengikat selendang, Anda pada dasarnya 'mengikat' nafsu duniawi Anda untuk memasuki ruang suci dengan pikiran yang jernih.
Memilih sarung bisa menjadi bagian yang menyenangkan. Motifnya berkisar dari 'Endek' tradisional (tenun ikat) hingga batik modern. Sementara penyewaan seringkali menyediakan kain polos, membeli sarung sendiri memungkinkan Anda memilih warna yang sesuai selera. Tidak ada kode warna ketat untuk pengunjung, meskipun warna putih dan kuning sering dicadangkan untuk pemedek (umat yang berdoa).
Bagaimana cara memakainya? Untuk pria, sarung biasanya memiliki lipatan di depan yang disebut 'Kancut' yang menjuntai hampir menyentuh tanah, melambangkan wibawa. Untuk wanita, kain dililit ketat untuk menciptakan siluet ramping. Penduduk lokal di pintu masuk selalu dengan senang hati membantu Anda memakaikannya dengan benar.
Sewa vs Beli
Pura besar seperti Besakih atau Uluwatu menyertakan sewa sarung dalam tiket masuk. Namun, kami sarankan membeli sarung batik cantik di pasar lokal (sekitar Rp 50.000-100.000). Ini bisa menjadi handuk pantai serbaguna nantinya dan oleh-oleh yang bagus.
2. Kesopanan Tubuh Bagian Atas

Sementara kaki tertutup sarung, tubuh bagian atas memerlukan perhatian yang sama. Aturan umumnya sederhana: tutup bahu dan perut Anda. Pura bukanlah tempat untuk memamerkan pakaian pantai, seberapa pun panas udaranya.
Hindari tank top, tali spaghetti, kerah V rendah, atau crop top. Jika Anda mengenakan gaun tanpa lengan, cukup bawa selendang lebar atau kardigan tipis untuk menutupi bahu sebelum masuk. Sikap kesopanan kecil ini sangat dihargai oleh penjaga pura dan umat yang beribadah.
Untuk pria, kaos atau kemeja berkerah sangat bisa diterima. Anda tidak perlu mengenakan kemeja safari putih tradisional dan 'udeng' (ikat kepala) kecuali Anda benar-benar ikut sembahyang, meskipun mengenakannya dianggap sebagai tanda penghormatan tinggi. Bertelanjang dada sangat dilarang di mana pun di dalam kompleks pura.
Jika Anda melakukan perjalanan mendadak, pura-pura besar sering meminjamkan selendang bersama sarung. Namun, di pura desa yang lebih kecil, fasilitas ini mungkin tidak tersedia, jadi menyimpan syal ringan di jok motor atau tas Anda adalah langkah pro traveler.
Catatan tentang rambut: Meskipun tidak ada aturan wajib menutup rambut (seperti di masjid), mengikat rambut panjang dianggap rapi dan sopan. Ini juga membantu Anda tetap sejuk di tengah kelembapan halaman pura.
3. Aturan Suci Lainnya

Pakaian hanyalah langkah awal; perilaku adalah yang kedua. Aturan yang paling ketat ditegakkan menyangkut menstruasi. Wanita tidak diperbolehkan memasuki kompleks pura saat sedang haid. Ini berakar dari konsep 'Cuntaka' atau ketidaksucian spiritual yang terkait dengan darah. Ini bukan diskriminasi, melainkan cara menjaga kemurnian vibrasi tempat suci.
Perhatikan posisi fisik Anda. Jangan pernah memposisikan kepala Anda lebih tinggi dari pendeta atau 'Pelinggih' (tempat suci). Jika pendeta duduk di lantai, Anda harus duduk di lantai juga. Memanjat tembok atau patung demi selfie adalah pelanggaran berat.
Jangan berjalan di depan orang yang sedang berdoa. Garis koneksi antara penyembah dan tempat suci dianggap sakral. Lewatlah di belakang mereka jika Anda harus bergerak. Fotografi diperbolehkan, tetapi selalu gunakan lensa zoom untuk menjaga jarak hormat.
Pelankan suara Anda. Pura adalah tempat meditasi. Tertawa keras atau berteriak mengganggu kesucian. Jika membawa anak-anak, pastikan mereka mengerti bahwa ini adalah 'zona tenang' seperti perpustakaan.
Terakhir, jangan pernah mengarahkan kaki ke altar. Jika duduk di lantai, duduklah bersila untuk pria atau metimpuh (kaki ditekuk ke samping) untuk wanita. Mengarahkan telapak kaki ke arah tempat suci dianggap sangat tidak sopan dalam budaya Bali.
Jangan Sampai Kehujanan. Keliling Bali dengan Gaya!
Jangan ambil risiko keselamatan dengan motor yang licin. Nikmati suasana tropis Bali dengan nyaman bersama Bali Nusa Transport. Armada kami siap mengantar Anda ke mana saja, hujan atau panas.


